#NulisRandom2015 hari ke7 sudah saya tulis di hari ke 6, karena kebetulan mendapatkan inspirasi dari status Facebook teman yang menampilkan draft pidato Eisenhower yang dipersiapkan oleh dirinya jika Sekutu kalah di penyerbuan Normandia saat D-day Perang Dunia 2. 

Pidato itu tidak pernah dibacakan oleh Eisenhower di muka umum, karena akhirnya Sekutu berhasil menduduki Normandia – dan draft itu akhirnya mulai diketahui keberadaannya 1 bulan kemudian. 

Draft pidato itu sangat singkat dan padat, berikut isinya: 

Here’s what it says: “Our landings in the Cherbourg-Havre area have failed to gain a satisfactory foothold and I have withdrawn the troops. My decision to attack at this time and place was based upon the best information available. The troops, the air and the Navy did all that Bravery and devotion to duty could do. If any blame or fault attaches to the attempt it is mine alone.”

Pidato tersebut menunjukkan kualitas Eisenhower sebagai pemimpin. Menunjukkan bahwa dia berani mengambil keputusan sulit dan yang terpenting adalah siap bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Tidak sedikitpun menimpakan kegagalan tersebut pada orang lain. Eisenhower kemudian menjadi presiden AS untuk 2 periode, dan kerap masuk dalam daftar presieden AS terbaik sepanjang masa. 

Tidak ada yang bilang bahwa menjadi pemimpin itu mudah, justru itu adalah peran yang sangat sulit. Apalagi untuk Indonesia di jaman sekarang ini, yang warganya kadang keblinger untuk membedakan kategori pemimpin dengan idola. Akhirnya, alih-alih menjadi warga negara, malah menjadi fans. Keblinger lain adalah kadang-kadang orang berpikir pemimpin dan manajer itu sama, padahal belum tentu. Menjadi pemimpin, bisa jadi punya kemampuan manajerial baik. Tetapi kemampuan manajemen baik bukan berarti serta merta menjadikan dia pemimpin.

Jika mengambil contoh dari Eisenhower atau pemimpin sukses lainnya, kesamaan mereka adalah: berani mengambil keputusan sulit dan berani bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Tentu ada banyak kualitas lain, misalnya dia menginspirasikan orang untuk berbuat lebih dan bekerja lebih baik. Dan dia harus bisa memandang jauh ke depan. 

Pemimpin yang baik tidak pernah mengkambinghitamkan orang lain di depan umum atau bahkan media. Dia tidak pernah mengumbar ancam pecat-pecat dan pecat di depan umum. Dia tidak memimpin dengan rejim ketakutan dan pengawasan ketat. Apa yang bisa diinspirasikan dari ancaman pecat dan pecat setiap saat? Apa yang patut dicontoh ketika presiden malah menyalahkan menterinya dan sistem saat dia salah mengambil keputusan?

Tidak ada yang bilang birokrasi, birokrat dan PNS Indonesia baik. Namun dalam resep reformasi birokrasi dan kepemimpinan, tidak pernah ada resep ‘mempermalukan orang’ sebagai resep sukses perubahan dan reformasi. 

Transparansi adalah salah satu solusi. Buat sistem renumerasi dan penilaian kinerja yang kompetitif dan bukannya memarahi orang di rapat yang terekam youtube. Memarahi orang di youtube dan melontarkan kalimat-kalimat yang mengaleniasi legislatif di media itu bukan transparansi, tetapi teatrikal. Yang dihasilkan dari marah-marah di youtube dan tuduhan-tuduhan itu hanyalah rasa dendam dan tidak enak. Tegakkan aturan kepegawaian. Jika memang perlu pecat, pecatlah jika perlu atau sudah tidak diselamatkan lagi. Bukannya main umbar pecat A, B,C di media, tapi sampai hari ini gak dipecat-pecat juga. Itu namanya macan kertas. Mereshuffle tiap 3-4 bulan juga malah memperburuk. Salah satu kekurangan birokrasi adalah ketika satu PNS sudah nyaman dan ahli di bidangnya, mendadak harus pindah ke bidang yang baru sama sekali, sementara penggantinya harus mulai dari awal, dan relasi harus dibangun dari awal. 

Susah kan? Iya, dan marah-marah serta menyalahkan bawahan di muka umum hanya memperburuk kepemimpinan.

Tentunya setiap pemimpin ingin kepemimpinannya terkenang baik, seperti di wikipedia Eisenhower berikut ini:

Historians long ago abandoned the view that Eisenhower’s was a failed presidency. He did, after all, end the Korean War without getting into any others. He stabilized, and did not escalate, the Soviet-American rivalry. He strengthened European alliances while withdrawing support from European colonialism. He rescued the Republican Party from isolationism and McCarthyism. He maintained prosperity, balanced the budget, promoted technological innovation, facilitated (if reluctantly) the civil rights movement and warned, in the most memorable farewell address since Washington’s, of a “military–industrial complex” that could endanger the nation’s liberties. Not until Reagan would another president leave office with so strong a sense of having accomplished what he set out to do.