Bulan lalu saya melihat upaya keras petugas Dinas Perhubungan, Satpol PP, Polisi dan PT Transjakarta yang berusaha mensterilkan jalur Transjakarta. Di saat bersamaan PT Transjakarta juga mendirikan pembatas yang tinggi sepanjang jalur Transjakarta (ada kritik untuk struktur pembatas, tapi ya untuk lain hari deh).
Akhirnya setelah saya melihat PT Transjakarta cukup konsisten di saat bersamaan lalu lintas Jakarta semakin macet paska peniadaan 3in1 ditambah secara tradisional masa puasa memang selalu bertambah mobilitas, maka awal Juni saya memutuskan untuk coba lebih rutin naik Transjakarta.
Di minggu pertama Juni ternyata lebih banyak gagal daripada berhasilnya. Mungkin karena capek, ‘nanggung’, hingga hujan. Akhirnya, tanggal 15 Juni 2016 kemarin saya baru benar-benar pulang pergi dengan menggunakan Transjakarta.

Tentu ini sudah kesekian kali saya naik Transjakarta. Tapi selalu rute pendek, yang sekitar 3-10 halte. Namun perjalanan pulang pergi rumah kantor itu melewati 22 halte termasuk berganti di Harmoni (Red: sebetulnya rumah saya tidak sejauh itu sih, cuma tidak ada rute langsung, jadi harus memutar ‘sedikit’ – atau bisa ambil alternatif lain, namun harus berganti 2x TJ, dan ini bkn opsi cantik).

Ternyata naik Transjakarta dalam jarak jauh, tidalah secapai menyetir. Saat menyetir, kita harus konsentrasi tinggi, mengingat semerawutnya motor-mobil yang tiba-tiba pindah jalur, hingga orang-orang yang tiba-tiba bisa muncul di jalan. Dengan naik TJ, saya cukup berdiri cantik atau duduk manis. Waktu tempuh, karena jalur steril, menjadi kurang lebih sama; walaupun memang masih tergantung pada ketersediaan bus dan panjang antrian. Tentu saja hal yang kurang juga ada, misalnya kadang harus jadi pepes dan kadang harus cium bau-bau tak sedap.

Yang paing mengesalkan dari Naik Umum ini adalah banyak sekali orang yang tidak mau antri. Mulut saya cepat sekali bereaksi kalau ada orang yang nyelonong antrian. Sebetulnya halte Transjakarta dan sistem transportasi umum jika didesain dengan sangat baik, dapat menjadi sarana pendidikan orang untuk warga kota. Menyediakan jalur antrian yang jelas sama pentingnya dengan upaya mengusir2 mobil/motor memasuki jalur TJ. Melatih disiplin serta menghormati hak orang lain.

Terlepas dari oknum penumpang yang tidak mau antri, banyak juga yang saya senang dari TJ, yaitu ketika saya melihat banyak orang-orang yang saling membantu antar sesama penumpang. Ibu sebelah saya membantu saya menurunkan kursi lipat, ketika ada orang yang masuk membawa anak, spontan ada yang berdiri menyilakan duduk, bapak2 membantu ibu2 yg membawa trolley keluar dari bus, hingga ada perempuan muda membantu nenek tua yang nyasar untuk naik bus yang benar. Dan saya baru 3 hari rutin naik TJ, bayangkan kalau sudah rutin di tiap hari kerja, berapa banyak aksi kebaikan hati yang saya temui (atau yang mungkin saya lakukan?) di sepanjang perjalanan saya – istilahnya ‘mengembalikan kepercayaanmu kepada kemanusiaan’. 

Yang sulit dari saya untuk bisa memulai #MenujuNaikUmum2016 adalah karena saya tidak berada dalam posisi keuangan yang ‘memaksa’ saya harus ‘irit’. Orang dengan disposable income yang cukup besar, tentunya bisa tergoda dengan mudah untuk naik Uber dan taksi kalau melihat antrian TJ yang tidak manusiawi. Begitu juga jika lajur TJ sdh terpolusi dengan motor mobil pribadi, orang-orang tersebut akan mudah kembali nyetir (ya setidaknya saya). Buat saya yang punya masalah pada kedua lutut, faktor penarik haruslah sangat tinggi. Dan untungnya kondisi macet Jakarta ditambah sterilnya jalur-jalur TJ adalah penarik yang kuat. Tapi ya kalau capai, begitu turun di Halte Bundaran Senayan, saya naik taksi ke kantor, padahal jarak cuma sekitar 750meter. Hal negatif lain adalah buruknya trotoar, yang membuat perjalanan kaki kita menjadi kurang menyenangkan. Asap mobil-motor yang membludak juga membuat malas, namun untungnya saya makan vitamin rutin, semoga bisa menjauhkan saya dari penyakit HISPA.

Kadang saya pun ‘melaporkan’ perjalanan saya di akun twitter. Juga karena saya masih newbie, saya banyak melontarkan pertanyaan. Ada banyak orang yang memberi saran, berusaha membantu perjalanan saya agar mudah melalui berbagi tips dan pengalaman, serta berbagi cerita-cerita lucu bersama #NaikUmum. Terima kasih untuk semua twit-twit mendukung juga saran, dan tak terlupa: twit-twit lucu soal seputar #NaikUmum. Membuat saya semakin semangat dan terus mau naik Transjakarta.

Karena itu, semoga PT Transjakarta menggunakan masa super macet seperti sekarang ini untuk membanjiri jalur-jalur TJ dengan bus-bus. Jangan biarkan calon penumpang menunggu terlalu lama, dan janganlah terlalu berdesakan (akhirnya saya lebih suka menunggu bus berikut, namun dapat antrian depan, supaya meningkatkan kemungkinan untuk dapat kursi kosong).

Maju terus PT Transjakarta; dan untuk Kemenhub, Jakarta pasti gak nolak kalau dapat tambahan hibah bus lagi. Mari sama-sama #MenujuNaikUmum2016

Rute Transjakarta