Melanjutkan kisah pengalaman saya hari ke 4 rutin naik dan pulang pergi dengan Transjakarta, saya ingin menuliskan refleksi pengalaman yang masih seumur jagung ini.

Lagi, bagi saya yang punya masalah pada kedua lutut dari lahir, dislokasi habitualis pada patella, opsi #NaikUmum di Jakarta adalah opsi buncit. Kondisi lutut saya membuat saya harus ekstra hati-hati. Bahkan di saat saya berdiripun, tiba-tiba salah satu lutut bisa dislokasi.

Transjakarta yang terlalu lama waktu tunggu dan tempuh disaat belum steril dan kekurangan armada, tentu sangat menciutkan hati. Sebelum Juni 2016, saya pernah harus menunggu TJ selama 45 menit di Koridor 1. Pengalaman jelek saya lain di tahun awal pengoperasian TJ, pernah terjepit engsel pintu krn didesak orang.

Memang lalu lintas yang luar biasa macet + jalur steril + penambahan bus besar2an dari KemenHub akhirnya memaksa saya untuk memberanikan diri melewati 22 halte termasuk 1 halte transfer. Ya itu jarak yang cukup jauh, bukan sekadar 3-10 halte yang kadang-kadang saya lewati. Saya beruntung ketika memulai hari pertama di jam yang cukup tepat, saat tidak terlalu ramai. Saya beruntung hari pertama jarak jauh itu tidak ada insiden, dan berikut juga seterusnya. Penting sekali untuk membangun kepercayaan diri, setidaknya untuk saya.

Hari keempat saya merasa terliberisasi oleh TJ. Terbebas dari properti saya, yang namanya mobil. Saya tidak perlu berpikir parkir dimana, apakah dia aman saat parkir, atau kekhawatiran absurb lainnya. Mobil itu bukan anak saya sehingga ketergantungan saya pada mobil memang harus dihentikan.

Dulu tahun 2009, didalam salah satu mata kuliah yang saya ajarkan, ada topik soal Automobile dependency, dan bagaimana siklus setan tersebut terpelihara akibat kebijakan dan tata ruang yang salah. Dan disitu memang banyak dibicarakan bagaimana caranya menghancurkan siklus itu. Memang siklus yang ada dibawah adalah siklus makro, namun prinsipnya kurang lebih sama jika diterapkan pada diri sendiri.

tdm100_01
Siklus Ketergantungan pada Kendaraan Bermotor (Todd Litmann & Jeff Kenworthy

Dulu saat saya masih kuliah S1 (dan S2, tapi ini di negara lain), karena saya tidak bisa menyetir, saya pengguna Metromini, Kopaja hingga Patas. Dari tempat kos ke kampus, bahkan ke tempat tugas kuliah dan kantor-kantor pemerintahan. Ingat selalu dengan nyamannnya B2 dari depan kampus untuk menuju Plaza Indonesia. Namun memang kualitas angkutan umum saat itu sangat jauh jika dibandingkan saat ini. Begitu saya bisa menyetir 12 tahun lalu, selamat tinggal #NaikUmum. Saya jadi tergantung mobil, seiring dengan memburuknya kualitas angkutan umum. Ketika Transjakarta akhirnya diluncurkan oleh Gubernur Sutiyoso, saya tidak tertarik mencoba pindah kembali ke #NaikUmum karena kantor saya tidak di 3 koridor awal TJ itu, serta terlebih saya keburu merasa nyaman.

Dalam diri saya sendiri, menghancurkan mitos ketergantungan terhadap mobil adalah penting. Bisa keluar dari siklus itu sangatlah melegakan dan membebaskan. Dan seperti keputusan saya yang terbantu dgn kondisi macet luar biasa dan jalur steril, penggunaan TJ memang masih penuh tantangan.

Seorang teman, jika harus menggunakan TJ, perjalanan menuju haltenya bisa memakan waktu 1 jam sendiri. Dan juga bagaimana warga yang memiliki keterbatasan fisik? Tapi yang tetakhir memang masih menjadi PR.

Namun jika kamu menemukan satu alasan untuk meninggalkan mobil dan motormu dan pindah TJ, kukuhkan hatimu dan pindahlah. Dan tidak ada kata terlambat dalam upaya jangka panjang untuk perbaikan kota ini.

Memang, pada akhirya, lebih baik kemarin daripada besok. 🚌🚌🚌🚌🚌