Mudah.

Cara membunuh kota adalah dengan cara mematikan komunitas dan permukimannya. Jika kota itu adalah kumpulan warga, aktifitas dan satuan permukimannya, maka bunuhlah ketiganya.

Beberapa waktu lalu, saya iseng berbagi artikel tentang rencana penghancuran jalan bebas hambatan di Detroit, yang mengisolasi Downtown Detroit, walaupun panjang jalan tersebut hanya sekitar 1 mil. Sebetulnya langkah menghancurkan jalan bebas hambatan tersebut bukannya hal baru, tapi sudah banyak ditempuh kota-kota lain, dari Seoul sampai Boston. Untuk Amerika sendiri langkah tersebut dinilai masuk akal, karena selain umur jalan sudah menua dan melihat bagaimana dampak jalan tersebut terhadap lingkungan sekitar, maka langkah penghancuran itu kerap diambil.

Di twit berikutnya saya mengeluarkan pernyataan, (salah satu) penyebab kehancuran Detroit adalah pembangunan jalan-jalan bebas hambatan. Dan lalu saya mengaitkan dengan rencana pembangunan 6 ruas tol dalam kota di Jakarta yang akan membelah-belah bagian dalam (downtown) kota Jakarta. Entah kenapa banyak yang bereaksi terhadap twit itu, dan berusaha membantahnya dengan menunjukkan bahwa kemunduran dan kebangkrutan industri otomotif lah penyebab kehancuran Detroit. Mungkin saja yang mereka maksud adalah kebangkrutan ekonomi yang kemudian berbuntut pada hilangnya pendapatan pajak, dan sebagainya. Saya tidak tertarik membahas itu karena memang dari awal fokus saya adalah tentang bagian kebijakan (infrastruktur) perkotaan yang salah akan membawa pada mundurnya kota tersebut, dan akhirnya kota tersebut hancur. Jika kota adalah warga, dan jika warga hancur, maka kota itupun hancur. Jawaban mudahnya bangunlah kota tersebut bukan untuk warga dan manusia.

Semasa dan sesudah program federal Urban Renewal dalam rupa Housing Act 1949 dan Federal Highway 1956 era 1950-60 diberlakukan, penghancuran permukiman-permukiman yang dianggap merah (red tape – miskin dan kumuh, dan mengarah pada ras tertentu) marak, dan yang berganti diatasnya adalah jalan bebas hambatan untuk mempermudah masuk ke pusat kota serta program perumahan publik moderen. Keduanya bisa jadi konsep yang disebut Henri Levebfre sebagai ‘neoliberal urban regeneration’. Disaat bersamaan, permukiman yang sudah matang tersebut digantikan dengan deretan flat moderen, beton dan dingin yang membawa nafas modernisme. Hal itu terjadi di Philadelphia, Atlanta, St. Louis hingga New York dan Detroit.

Pada era tersebut, Detroit menyaksikan penghancuran bagian-bagian permukiman, termasuk daerah Black Bottom yang mayoritas dihuni oleh komunitas Afrikan-Amerikan digantikan dengan jalan bebas hambatan, interchange dan rusun cantik dari Mies Van Der Rohe. Sebagai hasilnya di abad 21 ini, Detroit Downtown dan Midtown dikepung oleh jalan-jalan bebas hambatan. Detroit membangun kotanya untuk mobil.

Orientasi perencanaan yang berbasis pada kendaraan pribadi seperti mobil, dan ditambah suburbanisasi yang didorong oleh berbagai hal (kerusuhan rasial, pusat kota dianggap membusuk, dll) membawa inti kota menjadi busuk dan pada akhirnya penduduk yang tadinya menyumbang penghasilan secara langsung pindah ke suburb, yang akhirnya berdampak besar pada perekomian dan pajak kota. Tentu ini paradoks, pusat kota dianggap membusuk, maka mereka “melarikan” diri dari kota dengan menggunakan jaringan jalan bebas hambatan, sementara jalan-jalan itulah yang penyebab membusuknya pusat kota tersebut.

Jane Jacobs dalam salah satu bukunya menuliskan begini, “Not TV or illegal drugs but the automobile has been the chief destroyer of American communities. Highways and roads obliterate the places they are supposed to serve …”

Tentu saja jika orang yang berpaham ekonomi konservatif ingin menyangkal ini, biasanya akan membawa betapa industri mobil-lah yang membawa Amerika Serikat (sempat) maju hingga sekarang ini melalui pasar bebasnya. Namun dengan mengorbankan apa? Dari mengorbankan demikian banyak komunitas dan permukiman, serta kota-kota yang masih harus keluar dari pengaruh buruk Urban Renewal. Federal Highway Act juga menjadi karpet merah untuk industri otomotif. Dan cara untuk menyuburkan industri otomotif adalah dengan mematikan pesaingnya yaitu transportasi publik. Kasus-kasus terkenal diantaranya dengan upaya General Motors dan berbagai perusahaan terkait otomotif (dari bahan bakar hingga ban) membeli berbagai usaha transportasi publik (saat itu disebut streetcar), dan pelan-pelan menghentikan pelayanan transportasi publik tersebut. Salah satu kasus terkenal adalah yang terjadi di Los Angeles. Dan pada akhirnya, pasca matinya jaringan street car Los Angeles, akhirnya Los Angeles harus membuat kembali jalur transportasi publiknya.

Jadi apa yang membuat mati kota dan kehidupannya? Saya masih tetap berpandangan sama, kebijakan dan desain yang selalu dan terlalu memberatkan kepada kepentingan kendaraan bermotor pribadi dan turunannya.

Advertisements