Hari ini kembali ada pertemuan warga dari total 13 kampung Jakarta.

Tema pertemuan kali ini adalah membahas peninjauan kembali Peta Operasional dan Rencana Detil Tata Ruang dan Peraturan Zonasi.

Ini adalah pertemuan kedua membahas masalah tata ruang, dan warga diajak untuk mengenal rencana tata ruang dan disitu berembug untuk bereaksi atas rencana tersebut.

Ada banyak keheranan warga, mulai dari sesederhana, ‘saya sudah tinggal disitu 40 tahun kok rumah saya dihijaukan, sementara gedong apartemen sebelah kampung saya kok bisa tidak hijau?’

Atau ‘ini kenapa sungainya jadi 40 meter? Padahal sungai yang sekarang 20 meter saja selalu surut.’

Atau ‘Kalau rencana jalan 30 meter ini jadi, habis seluruh kampung di Muara Baru ini.’

Atau, ‘pemerintah tidak bisa membuktikan ini tanah dia, tapi kok seenak-enaknya bikin zonasi pemerintah.’

Dan masih banyak reaksi lainnya.

Acara hari ini sebetulnya pintu masuk pertama warga untuk merencanakan ruang hidupnya. Kami sengaja mengakrabkan warga dengan pemikiran teknokratik dan konsekuensi yang terjadi. Untuk kedepannya warga diajak untuk berpikir dan berembug bersama, mau jadi apakah kampungmu di masa depan.

Saya membayangkan kegiatan ini tidak hanya terjadi di kampung-kampung ini, tapi juga masif di seluruh wilayah DKI. Karena ini saatnya menata ulang hidup kita bersama, saat Gubernur DKI membuka proses peninjauan kembali Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana Detil Tata Ruang. Kesempatan ini yang mau diambil warga miskin kota untuk memastikan masa depan mereka agar kota ini pun mengakomodasi kehidupan dan penghidupan mereka serta memastikan perbaikan nasib mereka ke depan.

Harapan saya pribadi, proses ini tidak hanya eksklusif bagi kampung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota. Seharusnya proses ini terjadi di seluruh kota. Namun ini memang langkah bayi, untuk memantapkan beragam langkah selanjutnya.

Advertisements