Dua barang andalan kesukaan tahun ini:

1. Tas belanja ‘Sunflower’ dari Van Gogh Museum (tentu saja intepretasi dari lukisan Van Gogh ‘Sunflower’)

2. Scarf lebar dari Dewi Candraningrum yang diambil dari lukisan Bunga Matahari beliau.

Resolusi tahun 2017 adalah mengurangi sampah dan konsumsi – yang akhirnya berbuntut pada kampanye Rujak #SuatuHariTanpaSampah, yang menantang diri sendiri berapa lama tidak menghasilkan sampah anorganik. Kegiatan itu membuat pola konsumsi dan pola hidup saya berubah total. Saya bisa benar memahami konsumsi yang berbasis ‘kebutuhan’ dan bukan ‘keinginan’. Konsumsi di rumah pun berubah, ke pasar (suami saya) lebih sering, karena kami hanya mau membeli makanan yang benar2 dihabiskan demi meminimalkan sampah rumah tangga.

Perubahan lain adalah, saya gemar membawa sapu tangan (dan kadang scarf lebar). Untung saya dari dulu suka mengoleksi sapu tangan, akhirnya sapu tangan jadoel saya pun dipakai kembali. Saya memakai scarf lebar seperti yang digambar atas, ketika saya butuh perlindungan dari semprotan AC di Transjakarta yang sekaligus berfungsi sebagai sapu tangan (iyuuuuuuu).

Perubahan itu mungkin, terutama perubahan untuk menjadi lebih lestari. Dimulai dari hal kecil, lebih bagus lagi jika dilakukan bersama-sama agar bisa saling menyemangati. Tentu ada suka dukanya, namun menjadi lebih semangat ketika melewati ‘milestones’ yang dibuat sendiri, misalnya ketika berhasil 5 hari tidak menghasilkan sampah anorganik. Berhasil mengingatkan diri sendiri untuk membawa tupperware ke warung terdekat, senang ketika minum kopi kesukaan dari tumbler kecil warna warni, hingga ketawa ngikik ketika memaksakan diri makan kertasnya bapau.

Sampah DKI saat ini masih bergantung pada halaman rumah orang lain, alias Bekasi, tanpa ada upaya berarti yang dilakukan untuk menguranginya. Kampanye ‘kantung plastik berbayar’ sudah melayang entah kemana, dan tidak jelas apakah kampanye tersebut berhasil mengubah prilaku atau tidak. Kadang saya berpikir, sebagai langkah awal perubahan perilaku, jangan-jangan warga DKI (terutama yang berusia sekolah) perlu dan wajib mengunjungi Bantar Gebang untuk melihat gunungan sampah yang sampai berpuluh-puluh meter. Lihat langsung bagaimana pola konsumsi kita membuat sengsara orang lain.

DKI Jakarta dihadapkan pada pilihan yang sulit. Sebaiknya memang sampah dikelola berbasis lingkungan dan kawasan tertentu, tapi lingkungan di kawasan mana di dalam DKI yang benar-benar mau menerima sampah?

Sudah saatnya orang DKI berhenti berperilaku sebagai ‘konsumen’, yang menganggap pasukan oranye (atau Pemprov DKI) lah yang bertanggung jawab atas sampah dengan dalih ‘saya sudah bayar pajak dan uang sampah RT’. Seharusnya orang sadar akan konsekuensi pilihan konsumsinya, dan bertanggung jawab. Dan produsen pun seharusnya juga memiliki kesadaran bertanggung jawab atas pemilihan jenis kemasan. (PS: mari kita tidak membicarakan hal-hal seperti: ‘nanti kalau bawa botol minum sendiri, perusahaan air mineral dan pemulung bagaimana?’)

Saat saya mengikuti Musrenbang RPJMD DKI kemarin, saya tidak melihat DKI memiliki program pada bagian hulu (mengurangi produksi sampah), yang dipedulikan hanya bagian hilir (pembuatan ITF yang kontroversial itu hingga soal Bantar Gebang). Jika hulunya tidak ada perubahan, ya jumlah sampah secara konvensional bertambah, akhirnya kota membuang energi lebih untuk ‘menangani’ dan memusnahkan sampah. Yang jelas kemarin saya tidak melihat strategi maupun program berarti untuk mengurangi produksi sampah DKI yang kini sudah capai 7000 ton/hari itu.

Perubahan bisa dimulai secara sederhana, bahkan bisa dimulai di kalangan birokrasi sendiri. Tidak menggunakan air kemasan, bawa botol sendiri.

Kampanye sederhana ‘Bawa Botol Minum’ dilakukan secara rutin oleh Keuskupan Agung Jakarta. Di gereja saya sendiri, yang disediakan dimana-mana adalah tempat pengisian ulang air minum. Tiap acara lingkungan, pesan sponsor selalu ‘Jangan lupa BBM’. Kecil dan sepele, tapi itu cukup sukses mengubah prilaku umat. Botol minum warna-warni segala bentuk menjadi pemandangan biasa di gereja.

Sekolah juga bisa membawa perubahan. Sekolah anak saya mewajibkan anak membawa botol minum, dan tentu disediakan tempat isi ulang. Akhirnya buat anak saya yang masih 6 tahun itu, membeli air kemasan dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa. Minum dari gelas air kemasan dengan sedotan kecil dianggap sebagai pengalaman spesial, akhirnya memang rada katrok anak satu ini. Tapi buat saya lebih baik dia katrok daripada dia tidak terbiasa membawa dan mengisi sendiri botol minumnya.

Jika kata kesukaan Gubernur DKI baru, Anies Baswedan adalah GERAKAN, saya berharap dan mendorong beliau mampu menggerakkan sebagian besar birokrat (dan warga DKI) untuk minimal mengurangi konsumsi air minum kemasan.

Entah bagaimana ceritanya dari tas belanja dan scarf Bunga Matahari saya itu bisa berakhir ke dorongan gerakan Membawa Botol Minum Sendiri. Harapan kecil saya, dengan mengurangi konsumsi air minum kemasan, gunungan sampah Bantar Gebang di Timur Jakarta bisa turun sedikit demi sedikit, sehingga sisi barat Bantar Gebang bisa mulai menikmati matahari terbit.

Advertisements