Sangat mudah membuat anak usia 6 tahun bahagia sekaligus belajar menjadi warga kota. Caranya, ajaklah dia jalan-jalan mengunjungi berbagai tempat publik dengan menggunakan fasilitas publik dengan baik dan benar.

Hari itu akhirnya saya benar-benar libur. Ternyata ‘kebijakan’ saya meliburkan kantor tidak terlalu berarti untuk saya sendiri. Karena tanggal 24-25 Desember saya malah ‘Natalan’ di Musholla dan Pos RW 2 kampung berbeda, sementara tanggal 27-28 Desember menghadiri Musrenbang RPJMD (yang sayangnya saya sengaja tidak hadir untuk sesi pengarahan menteri-menteri di pagi harinya, sehingga tidak nonton bagian Ibu SMI mengutip realisasi APBD 2017 yang ternyata heboh salah data dan lain-lain dan seterusnya).

Baik, fokus kembali kepada si anak kecil satu. Dengan senang dia mengalungkan kartu dan siap-siap naik Transjakarta. Botol minum, snack dan bekal makan siang telah siap sedia. Dan tujuan kali ini adalah perpustakaan, tonkatsu, dan belanja hadiah (post) Natal.

Hanya butuh 35 menit dari halte Kalideres untuk mendapai halte Balai Kota didepan Perpustakaan Nasional. Di awal perjalanan si kecil berujar, ‘I like taking Transjakarta, because I can wave my hand to cars who got stuck in traffic’. (Ini bukan kebalikan dari ‘AAC2’, tapi si kecil memang sehari-hari lebih banyak menggunakan bahasa Inggris, terutama ketika mengobrol dengan saya). Dan nyata saja, di 2 km pertama perjalanan, si kecil sibuk dadah-dadah pada mobil-motor yang terjebak macet sepanjang Daan Mogot.

Si kecil memang memahami bahwa jalur TJ adalah steril dan hanya digunakan untuk TJ saja, pasca obrolan 2 malam soal apa itu ‘prioritas’ di dalam kota. Protesnya bermunculan ketika ada mobil dan motor nyelonong masuk ke jalur TJ. Bahkan di akhir perjalanan kembali, si kecil geram, ‘I want to scream at them!!’

Cara termudah bagi saya untuk mengajari anak saya tentang cara hidup berkota adalah melalui sesi ngobrol ringan disertai ilustrasi dan melakukannya sesudahnya. Mulai dari mengajarinya mengantri (dan sampai akhirnya dia bisa protes ‘you have to queue!’ Walau belum tentu yang diprotes paham maksudnya apa) hingga mematikan lampu jika tidak digunakan. Dan dari interaksi saya dengannya, kadang muncul hal-hal tak terduga. Beberapa bahkan muncul di saat petualangan kecil hari ini.

Sesampai kami di Perpustakaan Nasional, si kecil mengeksplorasi ruang-ruang pamer di bangunan kolonial. Dia mencoba membaca berbagai aksara kuno, dan berkesimpulan, ‘there are many alphabets that I don’t know, mom.’

Ada komentar lucunya saat melihat display foto-foto presiden dan buku-buku tentang para presiden.

Kecil: ‘So Joko Widodo (entah kenapa dia selalu menyebut Jokowi dengan nama lengkap) is the most famous president among others.’

E: ‘Eh? Where does your assumption come from?’

Kecil: ‘Because Joko Widodo has more books about him compare to others. He got 3 shelves, while the others only got one each.’

E: 😅😅

Tahap berikutnya, saya mendaftarkan kartu perpustakaan untuk si kecil. Selagi menunggu antrian, akhirnya kami memutuskan untuk menjelajah lantai lain, dan menuju ke bagian buku anak.

Setelah kami mendapatkan kartu perpustakaan, si kecil bilang lapar dan ingin makan bekalnya. Dan saya bilang kita harus makan diluar (walau di dalam bangunan saya tidak menemukan tulisan larangan makan). Dan tentu saja si kecil bertanya, kenapa? Dan saya menjawab, karena ini bangunan publik dan isinya buku, dan kita harus menjaga kebersihan dan jangan sampai ada makanan tercecer yang mengundang serangga. Dan dia pun lebih senang makan di taman, karena bisa sambil pegang-pegang tanaman atau main petak umpet.

Hari itu tak sengaja bertemu dengan teman di Perpusnas. Akhirnya kami memutuskan untuk makan tonkatsu bareng. Sebetulnya kami bisa saja naik Transjakarta ke Plaza Senayan, namun niat tersebut gagal karena bus 1A memutuskan untuk ngetem lama didepan Halte Balaikota.

Kami sempat naik bus dan memilih tempat duduk di belakang. Dan seperti biasa si kecil kepo, tengok ke belakang, kiri, kanan dan lari ke depan terlebih karena bus masih dalam kondisi berhenti. Saat menengok ke belakang, dia melihat sampah dan keponya muncul. ‘Why did people throw trashes here. This is not a garbage bin.’ Lalu tiba-tiba si kecil memanjat kursinya untuk mengambil sampah (sementara mamihnya cuma bisa ‘tampang horor’ krn membayangkan kuman-kuman) dan membuangnya ke tempat sampah yang tersedia hanya 2 langkah dari tempat kami duduk. Iya, saya sungguh ingin bertanya pada orang yang meninggalkan 2 sampah plastik di belakang bus, ya ampun, itu tempat sampah cuma berjarak 2 langkah!

Akhirnya karena sudah 10 menit si bus tak beranjak juga, dan walau diprotes si kecil ‘But, I want to take bus, because it will be faster!’ Akhirnya kami memutuskan naik Taksi ke Plaza Senayan.

Kami menghabiskan waktu 5 jam-an di Plaza Senayan. Dan si kecil (yang gak ada capainya) masih ingin naik Transjakarta lagi untuk perjalanan pulang. Tentu ketika harus melewati rangkaian ramp menuju Halte BunSen, ocehannya muncul, ‘why don’t we just cross the road, mommy? It will be faster, right?’ (nah tuh, wahai Transjakarta, anak umur 6 tahun aja juga tahu ‘prioritas’ dan prinsip mencapai halte transit).

Di akhir petualangan, saya bertanya pada si kecil, apa yang menarik dari pengalaman hari ini. Dan jawabannya, ‘some cars and bikes are stupid, because they took jalan busway.’ (Dia belum paham “lane”). Dan pengalaman yang lain, ‘I got my first library card’, dan dengan bangga dia memamerkan kartu perpustakaan kepada ayahnya.

Advertisements