Terkadang cara mudah memahami suatu kota dan kebudayaan adalah melalui film. Setidaknya itu yang saya lakukan ketika saya menonton serial TV, darimanapun asalnya. Melalui film atau serial TV saya melihat kota dari sudut pandang sutradara atau penulisnya. Sex and The City tidak bisa dilepaskan dari New York City, Rocky tidak bisa lepas dari Philadelphia, bahkan Gotham pun merepresentasikan Chicago. 

Beberapa tahun belakang ini saya berminat dengan film dan serial Korea. Mungkin saja berkat Bekraf-nya Korea yang sukses banget menjual ‘paket’ kesenian populer dan kontemporer mereka, atau mungkin karena kontennya yang ringan menarik sekaligus kualitas visual yang menarik dalam setting perkotaan yang akrab dengan saya. 

Dalam beberapa hal, Korea Selatan dan Indonesia mengalami tonggak sejarah mirip dengan Indonesia. Rejim militer dan reformasi. Mereka 1987 dan kita 1998. Sama-sama terpuruk di era krisis moneter 1997-8. Kedua ibukotanya sama-sama menjadi ajang spekulasi dan komodifikasi properti dengan derajat yang berbeda. Kampung-kampung di 2 kota tersebut harus menghadapi gentrifikasi dan penggusuran atas nama ‘Urban Renewal’. Fasenya bisa jadi ada kemiripan, tapi tentu saja produk terkininya berbeda. Tahun lalu Seoul membuka Seoullo, tempat publik baru yang tadinya eks jalan layang yang membelah kawasan Stasiun Seoul. Sementara Jakarta sendiri sepertinya masih getol membuat jalan layang, dengan setidaknya ada 20 rencana jalan layang baru untuk 5 tahun ke depan. Bahkan kota ini sepertinya berbahagia sekali ketika lingkaran baru Semanggi dibuka. 

Ada banyak serial Korea yang bisa membantu penontonnya memahami revolusi perkotaan Seoul tanpa perlu menginjak Seoul. Salah satu yang wajib ditonton adalah trilogi Reply, untuk membandingkan berbagai perubahan yang ada: 1988, 1994 dan 1997. Serial terkini Black Knight, selain menyajikan kostum-kostum cantik, juga menghadirkan konflik seputar Urban Renewal dan gentrifikasi, serta upaya yang dalam kehidupan nyata sedang diusahakan oleh Walikota Park untuk melakukan regenerasi kampung tua Seoul, tanpa perlu menghancurkannya menjadi ‘apatou’ / apartemen. 

Because This is My First Life, serial tahun 2017 dari tvN, memberi sedikit latar belakang pada dampak negatif finansialisasi rumah, yang untuk kasus Seoul sudah terjadi lebih dari 3 dekade. Serta sedikit latar terhadap hidup di bagian kota hadil apatouzation. 

Serial Kdrama kontemporer bahkan mengeksploitasi habis-habisan lansekap Seoul yang berbukit, mulai dari Ilhwa dong, Itaewon, Namsang, Myeong-dong dll. Untuk kawasan yg ‘kumuh, ada Mapo. Selalu ada Sungai Han dan segala jembatannya. Walkerhill muncul di berbagai drama. Paska 10 tahun Cheonggyecheon menjadi ruang publik dari tadinya jalan layang yang kumuh, tempat itu terus menerus ada di berbagai drama, dari sekadar halte bus hingga adegan berjalan-jalan di salah satu segmen kanal itu. Pemandangan malam wajib bahkan termasuk tembok kota dekat Dongdaemun. 


Ruang-ruang publik yang hampir selalu ada di berbagai drama termasuk museum, galeri dan halte bus, dan juga jalan-jalan kecil diantara tembok istana atau kampung hanok. Penonton pun menjadi paham bahwa unit apartemen termurah adalah yang berada di atap, lengkap dengan lantai luar berwarna hijau (yang ternyata warna cat ‘anti bocor’). 

Berjalan di kota pun menjadi semakin asyik dengan tambahan narasi. Narasi bisa jadi berasal dari jurnal ilmiah, buku non fiksi dan bahkan serial TV pun. Selamat menikmati kota, melalui berjalan maupun menonton.

Advertisements